ESSAY : FENOMENA KEKERASAN ANAK DI TENGAH PANDEMI

 

 

 


 

 

FENOMENA KEKERASAN ANAK DI TENGAH PANDEMI

Research and Development Division

Yayasan Karya Kakak Asuh


 

LATAR BELAKANG

Coronavirus (2019-nCoV) atau COVID-19 telah menjadi pandemi dan menyebar ke seluruh dunia. Coronavirus merupakan sekelompok besar virus yang berasal dari hewan. Penyakit yang disebabkan virus berkisar dari gejala yang ringan hingga yang parah. Setidaknya ada dua jenis virus corona yang bisa menimbulkan gejala parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Pandemi covid ini menyerang berbagai aspek dalam kehidupan, salah satunya adalah aspek pendidikan. Organisasi Pendidikan, United Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah mengakui hal ini dan menyatakan bahwa hampir 1,5 miliar siswa di seluruh dunia terpaksa belajar di rumah. Selain itu, hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan belajarnya di sekolah yang mengancam hak belajar setiap siswa. Demi memutus rantai penularan COVID-19 beberapa negara bahkan telah menutup sekolahnya, sementara negara lain memilih melanjutkan proses pengajaran di rumah (online) dari jarak jauh.

Kondisi tersebut juga berdampak pada sistem pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang “Pedoman Penyelenggaraan Belajar Rumah dalam masa Darurat Pandemi Coronavirus (COVID-19)”. Melalui surat edaran, dijelaskan bahwa peserta didik diwajibkan untuk belajar di rumah. Penjelasan ini bermaksud untuk memastikan hak peserta didik untuk mengakses layanan pendidikan terpenuhi, sekalipun dalam masa pandemi. Atas dasar tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan Surat Edaran 36962 / MPK.A / HK / 2020. Dalam surat edaran, Nadiem Anwar Makarim meminta seluruh siswa untuk tetap melakukan kegiatan pembelajaran, khususnya untuk daerah terdampak Coronavirus dengan memanfaatkan teknologi. Sistem pembelajaran yang awalnya tatap muka beralih menjadi daring melalui berbagai platform meeting.

Pada saat genting seperti ini, tidak hanya para peserta didik, orang tua peserta didik juga merasakan dampak dari pandemi COVID-19.  Melalui Ekayanti, N. W., & Puspawati, D. A. (2020), Arifin mengemukakan bahwa banyak orang tua yang harus beralih kerja di rumah. Selebihnya bahkan hingga diputus hubungan kerjakan (PHK) dari tempat kerjanya. Bagi orang tua yang beralih kerja di rumah, kegiatan sehari-hari di rumah akan disibukkan dengan pekerjaan, sementara orang tua yang di-PHK akan sibuk mencari pekerjaan baru sebagai pengganti. Selain itu, orang tua yang bekerja cenderung menjadi tidak fokus dikarenakan harus membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anaknya dalam belajar. Untuk orang tua yang tidak bekerja, meski dapat mendampingi anaknya, namun ternyata terdapat kesulitan tersendiri bagi mereka. Meskipun orang tua berada di rumah dan mampu fokus dalam mendampingi anaknya, tidak sedikit orang tua yang mengalami kesulitan sebab tidak memiliki pemahaman yang cukup akan materi pembelajaran, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman orang tua akan penggunaan fasilitator atau alat bantu belajar seperti Google Classroom dan sebagainya. Sehingga dalam hal ini, orang tua sulit untuk melakukan hal maksimal dalam mendampingi proses belajar anak. 

PEMBAHASAN

Dilema dampak pandemi COVID-19 di Indonesia tidak hanya menyasar pada dampak ekonomi. Pengaruhnya dirasakan pada isu non-politik lainnya seperti pendidikan. Ketika membahas mengenai pendidikan, tentu tidak lepas dari aktor yang bermain di dalamnya seperti guru, murid, dan orang tua. Namun pada kajian kali ini, peneliti akan memfokuskan masalah pada aktor murid (anak) dan orang tua.

Pada bab sebelumnya, telah dibahas mengenai dampak yang diberikan pandemi ini pada pola belajar anak. Masalah ini juga berujung pada kekerasan yang semakin meningkat selama perkembangan COVID-19 di Indonesia sejak pertengahan 2020. Kak Seto sebagai pakar pendidikan juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak meningkat selama pandemi virus Corona. Hal ini dapat dilihat dari grafik perbandingan angka kasus kekerasan pada anak sebelum pandemi yakni di tahun 2019 dan angka kekerasan pada anak di tahun 2020.

 

Sumber: Kemen PPPA

 

Berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), terdapat sekitar 3.087 anak yang menjadi korban kekerasan selama masa pandemi virus Corona. Jenis kekerasan beragam, 852 anak mengalami kekerasan fisik, 768 anak mengalami kekerasan psikis, dan 1.848 anak mengalami kekerasan seksual.

                      


KEKERASAN PADA ANAK

Kekerasan juga dimaknai dengan beberapa pengertian yang pada dasarnya merujuk pada makna yang sama; tindakan yang menyakiti secara fisik atau psikis seseorang dengan tujuan untuk merusak, melukai dan merugikan. Secara spesifik, kekerasan pada anak menurut WHO adalah semua tindakan yang salah kepada anak, berupa perlakuan fisik, perlakuan secara emosional, perlakuan secara seksual, penelantaran anak, serta eksploitasi pada anak yang mengakibatkan kondisi Kesehatan anak menjadi berbahaya serta mempengaruhi kondisi perkembangan anak atau mengancam harga diri anak.

Membahas mengenai anak, maka perlu untuk melihat lebih lanjut mengenai kategorisasi anak itu sendiri. Berdasarkan UUD Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dalam Pasal 1 dijelaskan jika anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Melihat usia tersebut, jenjang pendidikan anak setidaknya berada hingga SMA. Menurut Konvensi Hak Anak: Versi Anak UNICEF, pada Pasal 1 dijelaskan jika anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali ditentukan lain oleh hukum suatu negara.

 

PERATURAN TERHADAP HAK DAN PERLINDUNGAN ANAK

Jika kekerasan yang diperoleh oleh seorang anak, maka apa sebenarnya hak sesungguhnya seorang anak? Dalam pasal yang sama seperti pembahasan sebelumnya mengenai kategorisasi anak, juga dijelaskan jika perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan kekerasan dan diskriminasi. Hak anak terkait pendidikan juga dipaparkan secara berturut-turut pada Pasal 9 ayat (1), Pasal 10, dan Pasal 11 UU No.22 Tahun 2002.

  • Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”;
  • Pasal 10 berbunyi: “Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan”; dan
  • Pasal 11 berbunyi: “Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berkreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri”. 

 

FAKTOR RISIKO

Tidak dapat ditampik bahwa dalam upaya mewujudkan hak tersebut, dibutuhkan kolaborasi antara guru dan orang tua. Namun, kondisi saat ini memaksa orang tua untuk mengambil peran lebih besar dalam proses belajar anak, melihat kebijakan belajar yang dilakukan secara jarak jauh dari rumah. Rumah sebagai peralihan tempat belajar anak dari sekolah tidak selalu merupakan tempat yang aman bagi anak sebab riskan mengalami kekerasan. WHO menyatakan jika salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk situasi adanya peningkatan kekerasan di rumah selama pandemi COVID-19 adalah ketidakpastian ekonomi. UNICEF juga menggambarkan beberapa penyebab isu-isu perlindungan anak muncul selama COVID-19 ini: 

  • Peningkatan aktivitas daring.
  • Stres terkait kekhawatiran ekonomi dan kemiskinan.
  • Ketidakmampuan untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga.
  • Hambatan terhadap pengasuhan yang disebabkan oleh kematian, karantina atau isu-isu rumah tangga.
  • Isolasi mandiri.
  • Peningkatan interaksi dengan kekerasan dalam relasi keluarga.
  • Gangguan pelayanan kesehatan, pendidikan, administrasi sipil dan pelayanan dasar lain.
  • Ketakutan, kebingungan dan kesulitan dalam beradaptasi terhadap ‘situasi abnormal/tidak stabil’ berkepanjangan.

 

SOLUSI

            Melihat latar belakang terkait isu ini dan dampak yang ditimbulkan, maka menemukan dan mendapatkan solusi yang tepat adalah salah satu tujuan dari penelitian kami. Tim Research and Development memberikan beberapa solusi yang dapat dilakukan seperti sebagai berikut:

  1. Komunikasi

Orang tua harus berkomunikasi dengan pasangan terkait kesibukan masing-masing dan berkolaborasi membagi peran dengan baik, serta sesering mungkin bertanya atau berbagi informasi tentang perkembangan anak. Selain ke pasangan, orang tua juga dapat berkomunikasi dengan anak yang bersangkutan, misalnya dengan menanyakan apa-apa yang disukai dan tidak disukai anak dalam belajar, serta aktivitas yang mereka ingin lakukan.

2.     Orang tua bersikap terbuka atas segala tantangan yang dialami anak selama BDR (Anak gampang jenuh) dengan berinisiatif untuk mencari tahu metode belajar yang tepat untuk anak. Selain itu, orang tua diharapkan mencari tahu materi yang dipelajari anak dengan mengeksplorasi referensi-referensi yang tersedia serta mempelajari platform penunjang pembelajaran.

3.     Management waktu bersama anak seperti membuat jadwal harian, termasuk jam bermain, jam makan, serta jam belajar di dalamnya, bersama pasangan dan anak yang bersangkutan.

            Sementara dari pihak eksternal, Pemerintah, Sekolah, hingga Lingkungan Rumah Tangga (RT) diharuskan mempererat kerja sama serta memperkuat peran masing-masing sebagai upaya pencegahan kekerasan pada anak. Maka dari itu, berbagai tindakan yang dapat dilakukan oleh pihak eksternal diantaranya adalah:

  1. Pihak pemerintah terus mengupayakan pemberian bantuan materil berupa bansos sembako, kuota gratis, serta uang tunai kepada keluarga terdampak Covid-19. Dengan harapan bantuan ini dapat mengurangi tekanan emosional orang tua pada aspek ekonomi selama pandemi. Kemudian Kemendikbud sebagai salah satu aktor pemerintahan, selain mengadakan Program Kampus Mengajar untuk membantu pembelajaran di masa pandemi, Kemendikbud diharapkan dapat memperkuat pelatihan dan sosialisasi, serta edukasi kepada pihak sekolah mengenai pembelajaran BDR yang efektif. 
  2. Pihak sekolah dapat mensosialisasikan materi belajar dan penggunaan fasilitas penunjang pembelajaran kepada pihak orang tua, serta menjalin komunikasi secara berkala dengan orang tua/wali dan anak di rumah tentang kegiatan BDR anak yang bersangkutan. pandemi--dapat mengupayakan sosialisasi pengawasan dan pelaporan kekerasan anak di lingkup tetangga. 
  3. Pihak NGO (Non-Governmental Organization) juga dapat berkontribusi aktif membantu kegiatan BDR. Misalnya seperti pada program Pengajaran serta Beasiswa Kasih yang dicanangkan oleh Yayasan Karya Kakak Asuh. Pihak-pihak eksternal juga dapat memberikan pembekalan psikis secara gratis kepada orang tua, mengenai cara menghadapi anak di masa pandemi yang sesuai dengan tumbuh kembang anak sebagai persiapan mental, serta mensosialisasikan wawasan tentang kekerasan pada anak.

Berbagai solusi serta pembekalan yang dilakukan oleh pihak eksternal akan menjadi faktor yang sangat membantu orang tua dalam proses pendampingan anak selama BDR. Maka dari itu, melalui inisiatif serta dorongan dari berbagai pihak, serta saling membantu dalam mengatasi berbagai kendala yang dialami oleh keluarga/masyarakat selama proses pembelajaran daring, diharapkan kekerasan terhadap anak yang terus mengalami peningkatan di masa pandemi mampu mengalami perubahan menuju kondisi yang lebih baik. 






 

 

 

 

REFERENSI

Maria Cecilia, Kak Seto Sebut Kekerasan Pada Anak Meningkat Selama Pandemi, diakses dari https://www.antaranews.com/berita/1774713/kak-seto-sebut-kekerasan-pada-anak-meningkat-saat-pandemi

Pratama, I. (2020). UNESCO: 1,6 Miliar Siswa dan 63 Juta Guru di Dunia Terdampak Pandemi. Jakarta, Indonesia: Medcom.id.

Ekayanti, N. W.,& Puspawati, D.A. (2020). Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak di Tengah Pandemi COVID-19. Prosiding Webinar Nasional Peranan Perempuan/Ibu dalam Pemberdayaan Remaja di Masa Pandemi COVID-19 (pp. 91-92). Denpasar: Universitas Mahasaraswati.

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2738/angka-kekerasan-terhadap-anak-tinggi-di-masa-pandemi-kemen-pppa-sosialisasikan-protokol-perlindungan-anak

https://www.unicef.org/indonesia/id/konvensi-hak-anak-versi-anak-anak

https://itjen.kemdikbud.go.id/public/post/detail/peningkatan-pemenuhan-hak-anak-di-sekolah-melalui-kegiatan-pembelajaran

https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/who-2019-ncov-violence-actions-2020-1--bi.pdf?sfvrsn=73fdcb54_2

https://www.unicef.org/indonesia/media/5601/file/Perlindungan%20anak%20di%20tengah%20pandemi%20COVID-19.pdf

https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/10-tips-mendampingi-anak-belajar-di-rumah-selama-pandemi

No comments:

Post a Comment